Selasa, 17 Januari 2012

Testimoni

Kamis, 12 Januari 2012

UAS 2011/ 2012

Sabtu, 26 November 2011

nge-blog yang baik

happy weekeeeeeeennndddd :D

kemarin sore, 26 Nov 2011
ada acara akademi berbagi tentang Blog
pembicaranya Fikry Fatullah, di coffee shop setia budi
dia itu udah pakarnya acara blogging
yang hadir ada perwakilan komunitas blogger sumut, dan aku lupa siapa lagi :p

pembahasan kemaren seru.
dia bilang blog kita itu mesti punya 3C :
Content, Consistency, dan Creativity.

Content itu ibarat raja.
yang merupakan pusat perhatian semua orang. kita harus bisa cerita semenarik mungkin. mendramatisir cerita sekuat mungkin, agar pembaca larut dengan semua cerita kita. gak harus pembahasan yang berat kok . masalah apapun bisa kita bahas sesimple kita ngatasin masalah sehari-hari.

Consistency itu ibarat ratu.
yang melengkapi konsep blog kita. kita bilangnya "yang penting eksis". gitu juga nge-blog. kadang banyak orang yang nge-blog , isinya bagus, tapi gak konsisten. hari ini nge-blog, trus sebulan kemudian nge-blog, trus setahun kemudian baru nge-blog. consistency itu penting buat membangun trust orang untuk tetap baca blog kita.

Creativity itu ibarat sihir.
yang merupakan daya tarik yang membuat keajaiban- keajaiban di blog kita. 4 sehat 5 sempurna ;D

untuk semua yang nge-blog, mulai perbaiki blog kamu.
aku juga berusaha terus untuk menjadi penulis yang baik.

Selasa, 15 November 2011

when a counselor said...


Konseling bukan berarti memberi bantuan, tapi lebih kepada mengambil jiwa, membimbing dan mengarahkan individu. Konseling bersifat objektif.

Konseling merupakan pertemuan konselor dan konseli untuk mengidentifikasi masalah konseli, mengembangkan kemampuan diri konseli, dan memecahkan masalah konseli.

Konselor sekolah adalah orang-orang yang sudah terlatih untuk melakukan konseling. Psikolog, sarjana psikologi, siapapun bisa menjadi konselor sekolah, asal sudah dilatih.

Kelemahan sekolah sehingga memilih tidak memiliki konselor adalah:

  • Sekolah kurang menghargai konselor sekolah dan tidak mengetahui pentingnya konselor sekolah
  • Sekolah tidak mau mengeluarkan biaya lebih untuk membayar seorang konselor
  • Sekolah merasa mampu untuk menyelesaikan masalah siswa
  • Sekolah menganggap orangtua siswa dapat menyelesaikan masalah anaknya.
Ketika seorang konselor tidak mampu mengatasi permasalahan siswa, maka biasanya siswa tersebut akan ditangani oleh psikolog pendidikan. Psikolog pendidikan posisinya di atas konselor sekolah. Peluang kerja konselor sekolah sangatlah luas, karena masih banyaknya sekolah-sekolah yang belum memiliki konselor untuk membantu mengatasi permasalahan siswa dan mengembangkan kemampuan siswa.

Di Medan masih sedikit sekolah yang memiliki konselor. Di Jakarta sudah banyak sekolah yang memiliki konselor, bahkan sedang di galakkan setiap sekolah minimal memiliki 1 psikolog pendidikan.

-Kak Ganda-

Asas- asas Layanan Bimbingan Konseling

Pelayanan bimbingan dilakukan dalam bentuk interaksi pribadi dan komunikasi antarpribadi yang bercorak membantu dan dibantu (helping relationship).

Ciri-ciri dalam hubungan antarpribadi sebagai berikut:
  • Bermakna, kedua belah pihak baik konselor maupun konseli melibatkan diri sepenuhnya dalam layanan bimbingan.
  • Mengandung unsur kognitif dan efektif, karena konselor dan konseli berpikir bersama, dan konselor mampu merasakan sepenuhnya perasaan konseli.
  • Saling percaya dan saling keterbukaan.
  • Atas dasar saling memberikan persetujuan, dalam arti konseli menyetujui terjadinya komunikasi secara sukarela dan konselor menerima dengan rela permintaan untuk memberikan bantuan profesional.
  • Adanya kebutuhan di pihak konseli.
  • Adanya komunikasi dua-arah.
  • Mengandung strukturalisasi, konselor memikul tanggung jawab yang lebih besar agar komunikasi terarah.
  • Berasaskan kerelaan dan usaha untuk bekerja sama agar tercapai tujuan yang disepakati bersama.
  • Mengarah ke suatu perubahan pada diri konseli.
  • Adanya jaminan bahwa kedua partisipan merasa aman, dalam arti konseli yakin terhadap keikhlasan konselor sehingga keterbukannya tidak akan disalahgunakan oleh konselor.
Kondisi eksternal berpengaruh terhadap proses konseling, yang menyangkut hal-hal sebagai berikut:
  • Lingkungan fisik
  • Penataan ruangan
  • Bentuk bangun ruang
  • Konselor berpakaian rapi
  • Kerapian dalam menata barang-barang dalam ruangan
  • Penggunaan sistem janji
  • Konselor menyisihkan buku, catatan serta kertas di atas meja
  • Tidak adanya peralatan rekaman berupa alat rekaman audio atau video
Kondisi Internal, terbagi 2:
  1. Di pihak konseli,dimana siswa memiliki keinginan untuk mencari penyelesaian masalahnya, keinsafan konseli untuk memikul tanggung jawab, dan adanya keberanian serta kemampuan untuk mengungkapkan pikiran dan perasaannya serta masalah yang dihadapi.
  2. Di pihak konselor, dimana konselor memiliki keyakinan-keyakinan dan nilai-nilai dalam kehidupan, memiliki pengalaman di lapangan, kemampuan menghadapi situasi yang belum menentu, kemudahan dalam berbicara mengenai diri sendiri, memiliki konsep diri, dan refleksi atas diri sendiri.
Teknik-teknik Konseling yang verbal seperti: Invitation to talk, Acceptance, understanding, Reflection of content, Reflection of feeling, Clarification of conten, Clarification of feeling, General Lead, Accent, Summary, Questioning/Probing, Feedback, Information giving, Forking response, Investigation, Structuring, Interpretation, Confrontation, Diagnosis, Reassurance/support , Suggestion, advice, Criticism, negative evaluation

Winkel, W.S. (2010). Bimbingan dan Konseling di Institusi Pendidikan. Yogyakarta:
Media Abadi

Layanan Bimbingan "Pengumpulan Data"


Pengumpulan data (appraisal) mencakup semua usaha untuk memperoleh data tentang siswa dan mahasiswa, menganalisis dan menafsirkan data, serta menyimpan data itu.

Tujuan dari pengumpulan data ialah untuk mendapatkan pengertian yang lebih luas, lebih lengkap, dan lebih mendalam tentang masing-masing peserta didik, serta membantu siswa dan mahasiswa memperoleh pemahaman akan diri sendiri.

Alat pengumpulan data dapat berupa:
  1. Alat tes. Alat tes digunakan untuk meramalkan (memperkirakan), mengadakan seleksi, mengadakan klasifikasi, dan melakukan evaluasi. Adapun pembagian alat tes menurut aspek isi, sebagai berikut:
  • Tes hasil belajar,mengukur apa yang telah dipelajari seseorang di berbagai bidang studi.
  • Tes kemampuan intelektual,mengukur taraf kemampuan berpikir, terutama berkaitan dengan potensi untuk mencapai taraf prestasi tertentu dalam belajar.
  • Tes kemampuan khusus atau tes bakat khusus, mengukur taraf kemampuan seseorang untuk berhasil dalam bidang studi tertentu, bidang pekerjaan tertentu.
  • Tes minat,mengukur kegiatan yang paling disukai seseorang.
  • Tes perkembangan vokasional,mengukur taraf perkembangan individu dalam menduduki suatu pekerjaan atau jabatan.
  • Tes kepribadian, mengukur ciri-ciri kepribadian seperti sifat karakter, gaya temperamen, corak kehidupan emosional, kesehatan mental.
2. Alat non tes, digunnakan dalam rangka teknik dan metode non tes, yang lebih menyoroti dimensi kualitatif tingkah laku dan kondisi kehidupan seseorang. Bentuk-bentuk alat non tes sebagai berikut:
  • Angket tertulis,
  • Wawancara,
  • Otobiografi, merupakan karangan yang ditulis oleh siswa mengenai riwayat hidupnya pada saat sekarang.
  • Anekdota,merupakan laporan singkat tentang perilaku seseorang dan memuat deskripsi obyektif tentang tingkah laku siswa pada saat tertentu.
  • Skala penilaian, merupakan daftar yang berisi sejumlah aitem yang menunjukkan sejauh mana individu dinilai memiliki sifat atau sikap tertentu.
  • Sosiometri, merupakan suatu metode untuk memperoleh data tentang jaringan hubungan sosial dalam suatu kelompok.
  • Kunjungan rumah, bertujuan untuk lebih mengenal lingkungan hidup siswa, jika informasi yang dibutuhkan tidak dapat diperoleh melalui angket atau wawancara.
  • Kartu pribadi,
  • Studi kasus.
Winkel, W.S. (2010). Bimbingan dan Konseling di Institusi Pendidikan. Yogyakarta: Media Abadi